5 Sikap yang Digunakan Sebagai Kunci Sukses Untuk Menjadi Pemimpin Besar

Sikap yang Digunakan Sebagai Kunci Sukses Untuk Menjadi Pemimpin Besar
Sikap yang Digunakan Sebagai Kunci Sukses Untuk Menjadi Pemimpin Besar

Menjadi seorang pemimpin adalah cita-cita semua manusia. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempengaruhi anggotanya. Dan pemimpin tentunya harus mempunyai sikap kepemimpinan. Kepemimpinan sendiri merupakan proses atau tata cara seorang pemimpin pada anggotanya dalam hal mempengaruhi.

Menurut seorang tokoh, pemimpin dapat diartikan seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapao tujuan.

Ada pula yang mengatakan, bahwa pemimpin adalah mereka yang berwenang untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasikan demi mencapai tujuan perusahaan.

Menurut dasar negara kita sendiri, Pancasila, pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila ialah:

  • Ing Ngarsa Sung Tuladha = Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
  • Ing Madya Mangun Karsa = Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berekreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
  • Tut Wuri Handayani = Pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan samggup bertanggung jawab.

Untuk menjadi pemimpin yang hebat, perlulah kita mengetahui terlebih dahulu apa saja sikap yang harus dimiliki untuk menjadi seorang pemimpin:

  1. Bersemangat
    Pernah mendengar bahwa, “Keberhasilan itu adalah hasil dari kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat.”? Atau, pernah membaca tulisan “Enthusiasm is contagious.” (Semangat Menular). Semangat itu memang benar-benar membawa perubahan. Mungkin ada, beberapa orang yang memiliki kegairahan alami pada diri mereka (semangat). Namun, tidak sedikit juga orang yang mudah berputus asa, pesimis, dan mundur sebelum perang. Sikap seperti itu tidak dibutuhkan untuk seorang pemimpin, justru malah sikap yang penuh gairah yang sangat dibutuhkan. Dengan gairah yang meletup-letup, kita bisa menarik orang-orang layaknha magnet. Mudah. Orang-orang akan kembali ingin menghabiskan waktu bersama kita.Lalu, bagaimana caranya untuk mempertahankan semangat yang ada dalam diri kita? Contohnya, saat kita melakukan sesuatu, berpikirlah bahwa apapun yang kita lakukan merupakan hal yang pertama dan terakhir untuk kita. Dengan cara itu, kita dapat memelihara semangat dalam diri kita, dan kita akan melakukan hal semaksimal mungkin yang kita bisa. Menoleh ke belakang pun tidak ada salahnya, misalnya kita mengulas lagi memori kita pada banyak situasi, entah kencan pertama, hari pertama bekerja, pertama kali masuk kuliah, atau bahkan mengunjungi negara lain. Betapa antusiasnya kita saat itu. Adalah mudah untuk menjadi antusias jika melakulan suatu hal untuk yang pertama kalinya. Melakukan semaksimal mungkin untuk (mungkin) yang terakhir kalinya. Kunci suksesnya adalah, pelihara semangat saat “pertama kalinya” untuk sesuatu yang ibaratkan “terakhir”.
  2. Memperluas Cakrawala
    Pemimpin-pemimpin yang terbaik selalu komitmen untuk melakukan pengembangan pribadi secara terus menerus dalam kehidupannya. Sayangnya, dengan diutamakannya pendidikan formal pada zaman sekarang, banyak orang percaya bahwa upacara wisuda merupakan akhir dari masa studi kita. Wisuda bukanlah akhir, belajar merupakan suatu perbuatan tanpa ujung. Terus menerus ditekunkan sampai batas akhir tiba. Batas akhir yang dimaksud adalah akhir hayat. Belajar tidak ada patokan berapa tahun lamanya, semakin banyak seseorang belajar, semakin banyak pula ilmu yang dimilikinya. Orang yang memiliki pemikiran yang luas, cenderung orang yang hebat serta cerdas, dapat memposisikan sesuatu dengan benar hingga pantas menjadi seorang pemimpin.Banyak generasi sekarang yang malu bertanya, walaupun sudah ada pepatah “Malu bertanya sesat dijalan” pun masih banyak siswa yang takut untuk bertanya. Tentu ini membatasi cakrawala mereka, pengetahuan mereka. Jarang sekali seorang remaja melancarkan pertanyaan bertubi-tubi guna memperluas pengetahuan mereka. Sebagai orang tua, atau orang terdekatnya merupakan hal penting untuk menyempatkan diri berdiskusi, dan menegaskan bahwa tidak ada pertanyaan yang tidak berguna. Para pemimpin yang baik tidak henti-hentinya untuk belajar, tumbuh dan berkembang. Para pemimpin besar juga memberi kesempatan dan dorongan kepada orang-orang lain untuk melakukan hal tersebut.
  3. Pencatat Yang Telaten
    “Pena yang pendek itu lebih baik daripada ingatan yang panjang.”Konghucu. Sering kita lihat, seorang bos atau atasan menyuruh karyawannya untuk menulis atau mencatat apa-apa dan meletakkannya di atas meja mereka. Di lain sisi, para pemimpin besar tidak lupa untuk membawa buku catatan mereka. Percayalah, mencatat itu memberikan Anda kesempatan untuk mengingat-ingat secara akurat, untuk mengingatkan diri atau meninjau berbagai hal. Mencatat itu pada akhirnya mengingat, juga bertindak.
  4. Memaksimalkan Waktu
    Di mana saat kita kurang memaksimalkan waktu kita untuk bekerja. Seolah-olah, satu hari 24 jam tidak cukup untuk kita dalam beraktivitas. Tak bisanya kita mengatur waktu seefisien mungkin, akan memberikan dampak yang cukup signifikan dalam kehidupan kita. Ada baiknya, kita mulai mengatur terlebih dahulu segala kegiatan rutin yang minimal harus kita lakukan dalam satu hari tersebut.
  5. Tegarlah Dalam Menghadapi Tekanan
    Tekanan yang datang sering kali membuat kita jatuh terpuruk, bahkan sampai pada dasarnya. Tekanan yang kita dapat bisa berupa kritikan, cacian, makian, dan lain sebagainya. Namun hal itu semua merupakan suatu harga yang harus dibayar untuk mencapai keberhasilan. Jika saja seseorang tidak mengalami kritikkan, hidupnya tidak akan mencapai suatu titik keberhasilan. Ia tidak akan pernah belajar apa arti bekerja keras, bersungguh-sungguh, dan lain-lain. Sebab itulah, banyak pemimpin besar yang mengalami proses di mana ia berada pada lembah keterpurukannya yang membuat ia ingin terus naik guna mencapai puncak lembah.

Di atas beberapa contoh sikap yang digunakan sebagai kunci sukses menjadi pemimpin besar. Teruslah berusaha, belajar tanpa henti untuk mencapai keberhasilan. Maksimalkan waktu yang anda miliki, terimalah apa resiko dari puncak keberhasilan tersebut. Lalu, ucapkan sapa pada keberhasilan di depan anda.